Senin, 11 April 2011 - 22:49:01 WIB

Pembelajaran Demokrasi Di Sekolah

Diposting oleh : Muhammad Sidik Widiatmoko Al Wahab, S.Kom | Kategori: Kegiatan Siswa | - Dibaca: 2840 kali

Mengingat pentingnya pembelajaran berpolitik yang demokratis dan bisa menerima hasil pemilu dengan lapang dada tanpa harus terjadinya pertentangan hingga sampai terjadi saling serang atar pendukung. Sebagai contoh berbagai kericuhan Pilkada terjadi di berbagai daerah. Di Maluku Utara, Depok, Sulawesi Selatan, Pematang Siantar, Manggarai NTT Pilkada berakhir dengan keributan. Ini semua disebabkan Penguasa yang seharusnya menerima hasil pilkada apa adanya ternyata hanya menginginkan kemenangan pasangannya. Akibatnya seluruh tata aturan dilabrak demi mengesahkan kemenangan yang ditargetkan.


Seluruh proses perjalanan sengketa dan solusi pilkada di provinsi itu menegaskan secara telanjang betapa penguasa memaksakan kepentingannya. Apa akibat seluruh egoisme kekuasaan seperti ini? Rakyat yang dirugikan. Mereka memilih pemimpin, tetapi yang menang tidak bisa segera memerintah. Negara mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk penyelenggaraan pilkada, tetapi hasilnya hanya memperpanjang dan memperparah konflik dan sengketa.

Melihat dari rentetan peristiwa di atas SMK Negeri 1 Batumandi mencoba memberikan pelajaran bepolitik yang sehat tanpa terjadi keributan dan saling menghargai hasil dari suatu pemilu. Dengan pemilih Ketua OSIS guru-guru mencoba memberikan pembelajaran berpolitik, pemilih Ketua OSIS sekarang sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya dimana hanya memilih Ketua OSIS secara pemilihan langsung. Pemilu kali juga dengan pemilihan langsung dengan cara dari 5 orang perwakilan tiap kelas yang dipilih oleh anggota kelasnya yang disebut MPK (Majelis Perwakilan Kelas) dan dari mereka dipilih beberapa orang untuk menjadi KPO (Komisi Pemilihan OSIS). KPO bertugas mendaftar calon kandidat yang ingin menjadi Ketua dan Wakil OSIS, membuat jadwal kampaye, jadwal pemilihan, skema dan sistem pemilihan serta mempersiapkan perlengkapan Pemilu, dimana tugasnya mirip dengan KPUnya Pemilu.

Setelah penjaringan dan verifikasi data terdapatlah bakal calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS (balon KOSIS) sebanyak 3 pasangan balon KOSIS dan mereka diberi jadwal kampaye sebanyak 1 hari, kampaye disini mereka diperbolehkan orasi, debat, Tanya jawab serta ada hiburan dari masing-masing balon KOSIS, yang membuat saya heran siswa sudah kreatif ada salah satu balon yang pendukungnya buat ondel-ondel sampai menebar foto meraka disudut-sudut sekolah saya melihat ini seperti Pemilu betulan.

Pada tanggal 26 Juli 2008 waktunya tiba untuk pencoblosan, disini sudah terlihat demokratisnya dari semua pemilih tidak ada yang namanya Golput mereka memilih semua. Setelah perhitungan suara yang menang adalah ROSA (Rona dan Samsudin) singkatan keren yang dibuat mereka. Pemilu pun diakhiri damai tidak ada keributan mereka bias menerima hasil Pemilu dengan lapang dada, yang kami harapkan dari pembelajaran ini siswa kalau sudah terjun ke masyarakat seperti ini bisa menerima kenyataan dan siap menang siap kalah.
Dari kejadian ini saya berharap Pemilu 2009 akan datang tidak akan ada keributan dan siap menerima kekalahan dengan lapang dada.




Isi Komentar :